Universitas Gunadarma
Fakultas Ekonomi
Makalah Ilmu Budaya Dasar
Punahnya Kebudayaan Bekasi
Yang Diambil Oleh Daerah Lain
Disusun Oleh :
Nama : Rakhel Bari Razak
Kelas :
1EA32
NPM :18214860
Kata Pengantar
Dengan memanjatkan doa dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa
yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya
dapat menyelesaikan tugas menyusun laporan ini. Tujuan penyusunan laporan ini
adalah sebagai laporan tugas dari
pelajaran Ilmu Budaya Dasar .
Makalah ini disusun berdasarkan pengetahuan umum, ilmu tata
cara menyusun laporan karya ilmiah, dan sedikit tentang ILMU BUDAYA DASAR. Mengingat terbatasnya
waktu dan fasilitas yang tersedia, materi pokok yang diutamakan ialah
tentang pengertian
tentang kebudayaan bekasi.
Demikian makalah ini
saya susun dengan harapan akan memberikan
sumbangan ilmu pengetahuan walaupun sedikit untuk para
pembaca. Saya
menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak
kekurangan, oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun, agar laporan selanjutnya
menjadi lebih baik. Dan dengan selesainya laporan ini semoga dapat bermanfaat
bagi pembaca.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................
DAFTAR ISI .............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................
A. Latar Belakang ................................................................................
B. Tujuan .............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................
A. Pengenalan Daerah Bekasi ..............................................................
B. Kebudayaan Bekasi ........................................................................
1. Kesenian Daerah Bekasi ...........................................................
2. Segi Bahasa ...............................................................................
3. Segi Peralatan Hidup dan
Teknologi.........................................
4. Segi Organisasi Kemasyarakatan ..............................................
5. Segi Mata
Pencaharian...............................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .....................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Budaya Bekasi diibaratkan
hidup segan mati tak mau. Yang harus dilakukan saat ini adalah menumbuhkan
keyakinan untuk mampu bangkit. Harus punya keberanian. Dengan kata lain,
tantangannya adalah harus memulai membangun jaringan komunikasi, baik dengan
industri dan masyarakat. Untuk menjaga keutuhan budaya Bekasi, jika
menggunakan melalui hak paten, dirasakan biayanya terlalu tinggi. Kalau bisa
dengan peraturan daerah saja sudah cukup kuat untuk melindungi. Karena
pemerintah daerah lain tidak bisa mengklaim lagi.
Kebudayaan
Bekasi berkembang berdasar sikap masyakatnya yang terbuka, sehinga banyak
pengaruh daerah lain masuk. Namun pengaruh Cirebonan cukup dominan. Persolaan
lain yang perlu diantisipasi adalah adanya “ancaman” daerah lain ( Jakarta )
yang boleh jadi akan megklaim beberapa kesenian tradisi Bekasi sebagai bagian
dari tradisinya. Ini sudah terjadi pada kesenian Topeng yang aslinya dari
Tambun, tapi kini orang mengenalnya sebagai Topeng Betawi. Langkah selanjutnya,
bisa lebih dipertajam. Misalnya menggunakan hak paten untuk melindungi cagar
budaya Bekasi. Langkah ini diharapkan dapat mengikis kata-kata kuota dari
Provinsi Jawa Barat bahwa Kota dan Kabupaten Bekasi hanya mendapat satu kuota
cagar budaya. Pemberian kuota ini sangat mengecewakan karena, membuka pintu
bagi daerah lain, seperti DKI Jakarta untuk mengklaim cagar budaya Bekasi.
Dewan Kesenian bercita-cita bahwa kebudayaan
harus menjadi oasenya, bukan jadi obyeknya.
B. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah karena menjaga, memelihara dan melestarikan kebudayaan merupakan kewajiban
setiap individu, maka dalam realisasinya, kamimencoba
menyusun makalah yang berjudul Kebudayaan Bekasi yang didalamnya mengulas tentang berbagai
kebudayaan berdasarkan unsur-unsur kebudayaan yang telah dipelajari.
Penyusunan
makalah yang berjudul Kebudayaan Bekasi ini bertujuan agar pembaca mengetahui
bahwa Kabupaten dan Kota Bekasi merupakan daerah yang kaya akan budaya serta
menyadari bahwa menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah merupakan kewajiban
dari setiap orang.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengenalan
Daerah Bekasi
Bekasi adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan daerah Jakarta sang
primadona Indonesia, yang dalam istilah adalah daerah urban. Banyak sekali masyarakat Bekasi yang bekerja di
Jakarta dan juga sebaliknya. Jakarta, sebagai ibukota dengan berbagai gaya
hidup dan gelembung budaya yang selalu berkembang, tentu saja menyentuh
sisi-sisi Bekasi sebagai daerah urban. Makanya, Bekasi merupakan salah satu kota yang paling cepat mengalami perubahan
dalam hal sosial, seperti lifestyle dan ilmu pengetahuan.
Kota Bekasi memiliki luas
wilayah sekitar 210,49 km2, dengan batas wilayah Kota Bekasi adalah:
• Sebelah Utara : Kabupaten
Bekasi
• Sebelah Selatan : Kabupaten
Bogor dan Kota Depok
• Sebelah Barat : Provinsi
DKI Jakarta
• Sebelah Timur : Kabupaten
Bekasi
Letak geografis : 106o48’28’’-107o27’29’’ Bujur Timur dan
6o10’6’’-6o30’6’’ Lintang Selatan.
Salah satu prestasi yang
telah dicapai Kota Bekasi di tahun 2009 adalah Piagam Adipura. Prestasi
tersebut, merupakan catatan terbaik duet kepemimpinan Walikota Bekasi H Mochtar
Mohamad dan Wakil Walikota Bekasi H Rahmat Effendi, karena berhasil membalikkan
predikat sebagai Kota Metropolitan Terkotor yang disandang sejak tahun-tahun
sebelumnya. Keberhasilan meraih Piagam Adipura merupakan titik awal dalam
persaingan meraih Piala Adipura pada tahun 2010 mendatang. Keberhasilan yang
sekaligus menjauhkan dari rasa keberpuasan diri, membuat duet pemimpin Kota
Bekasi ini terus memacu kinerjanya, salah satunya dalam menggapai Piala Adipura
yang diidam-idamkan, tidak hanya oleh keduanya, tapi sekaligus oleh jajaran
Pemkot Bekasi dan masyarakat Kota Bekasi.
Kota
Bekasi yang disebut sebagai daerah penyeimbang ibukota Jakarta, saat ini telah
banyak melakukan pembenahan. Pertumbuhan masyarakat yang berkembang pesat
menjadi ukuran yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam tingkat kota/kabupaten,
dimana perkembangan Kota Bekasi saat ini telah mengikuti irama perkembangan DKI
Jakarta.
B. Kebudayaan
Bekasi
Kebudayaan Bekasi akan
punah kalau tidak dijaga. Minimal dengan mempublikasikannya dengan tulisan. Salah satu contoh ialah, pemerintah daerah Solo dan
Banjarmasin yang sudah
melakukannya. Tetapi, kita belum
menemukan sebuah buku di Bekasi yang menggarap profil kebudayaan secara utuh.
Mengharapkan ada penulis yang serius menggarap profil kebudayaan Bekasi. Nanti
kemungkinan bisa dicetak oleh pemerintah daerah dan dapat dibagikan ke
masyarakat secara gratis. DPRD respek dengan permasalahan kebudayaan Bekasi.
Meminta dari pertemuan-pertemuan Komunitas Pangkalan Bambu, dibuatkan notulensi
sehingga ada jejaknya. Selama ada keseriusan, ada pengkajian, dan mengajak
anggota DPRD lainnya untuk juga membicarakan masalah kebudayaan Bekasi yang
terancam punah. Dan jugaadanya
kesediaaan diri untuk membantu dengan memberikan komputer laptop untuk
operasional. Minimal kegunaanya untuk membuat notulensi tiap kali ada pertemuan
Komunitas Pangkalan Bambu.
1. Kesenian
Daerah Bekasi
Sulit
menetapkan kesenian Kola Bekasi. Pasalnya, warga Kota Bekasi saat percampuran
antara budaya Betawi, Jakarta dan budaya Sunda, Jawa Barat. Pasalnya,
kebanyakan warga Kota Bekasi berasal dari Jakarta. Sedangkan, daerah itu sendiri
masuk Jawa Barat yang masuk teritorial tanah Sunda.
Tapi, nyatanya kesenian Kota
Bekasi lebih dekat dengan kesenian khas Jakarta. Pasalnya, Budaya Betawi warga
Kota Bekasi masih sangat dekat dengan budaya Betawi.
Sejak Kerajaan
Pasundan, 2 Jawara Adu Kemahiran Silat, Kota Bekasi rajinmenginventarisir kesenian asli daerahnya. Setelah kesenian Topeng, kini satu lagi kesenian khas Kota Patriot itu akan dipopulerkan. Yakni kesenian Ujungan.
Kesenian
Ujungan yaitu kesenian dengan memukul betis dan
tulang kering, dengan memanfaatkan lull aren, seorang pemain Ujungan langsung
meloncat-loncat dengan bergaya lucu. Ditambah lagi dengan laga kocak pemain
Ujangan ini membuat penonton terpingka-pingkal. Agar tidak
terkena penonton, maka disiapkan sendiri arenanya. Sejak tumbuh di jamannya,
permainan Ujungan ini sangat digemari warga Kota Bekasi. Karena, mereka sangat
terhibur apabila ada pagelaran kesenian ini digelar
Meski ditenggelamkan jaman,
namun permainan tradisional Kota Bekasi ini mendapatkan perhatian Pemerintah
Kota (Pemkot) Bekasi untuk dijadikan kesenian khas Kota Bekasi. Bahkan,
kesenian ini juga pernah dipertontonkan saat digelarnya pertunjukan kesenian antar daerah di Jawa Barat beberapa waktu
lalu, (bersambung) sama dengan DKI Jakarta.
Ratusan tahun lalu, menurut
para tokoh Bekasi yang kini masih hidup, permainan Ujungan dijadikan sebagai
buhan canda. Salah satu tokoh seni Kota Bekasi, H.M Husin Ka-mali mengatakan
Ujungan telah bermetamorfosa. Awalnya, Ujungan adalah permainan olahraga
ketangkasan. Namun, dalam perjalanannya temyata difungsikan sebagai alat
penghibur bagi masyarakat.
Kesenian
selanjutnya yaitu berupa tari topeng Bekasi yang mana DKI Jakartatelah mengklaim tari
Topeng Bekasi menjadi Tari Topeng Betawi.
2. Segi
Bahasa
Bahasa
Bekasi benar-benar khas dan tidak ada yang menyamainya. Bahkan bahasa yang
lazim digunakan kebanyakan orang di Bekasi sangatlah unik. Biladiperhatikan, orang asli atau
yang sudah lama tinggal di Bekasi akan berbicara dengan bahasa Sunda, atau
terkadang hanya logatnya. Dengan membawa keaslian Sunda tersebut, Bekasi yang
notabene adalah kota urban, terkena imbas budaya betawi yang begitu mudah masuk
dan mempengaruhi nilai-nilai sosial, termasuk bahasa.
Seringkali
orang Bekasi dapat dikenali ke-sunda-annya
dari logat dan nada yang digunakan.
Namun diksi dan kata-kata yang dipilih lebih mengarah ke bahasa Betawi.
Sehingga dapat disimpulkan bahasa Bekasi adalah mixing antara Betawi dan Sunda yang membuat bahasanya
lebih menarik dan asik untuk didengarkan.
Semua
itu dapat dianggap sebagai sebuah nilai sosial yang bernilai tinggi, karena
Bekasi telah memadukan bahasa Sunda yang klasik dan bahasa Betawi yang
ekspresif menjadi bahasa Bekasi yang asik dan menyenangkan.
3. Segi
Peralatan Hidup dan Teknologi
Kemajuan teknologi pun kini
tersosialisasi dengan baik dan bahkan telah berjalan. Diantara kemajuan
teknologi yang telah berjalan di Kota Bekasi adalah mengolah sampah menjadi
sumber energi listrik dan mengubah sampah menjadi Bio Oilyang tentunya melibatkan tenaga-tenaga yang
handal dan profesional baik lokal maupun hasil kerja sama luar negeri.
Pertumbuhan masyarakat dan
perkembangannya saat ini yang diiringi dengan tersedianya beragam fasilitas,
sarana dan prasarana pendukung membuat perkembangan infrastruktur di Kota
Bekasi patut diperhitungkan. Percepatan tersebut dilakukan melalui perbaikan-perbaikan sarana dan prasarana jalan
mencakup seluruh jaringan jalan yang ada, meski perlahan namun arahnya jelas.
Selain itu, secara umum, kebersihan baik lingkungan maupun aliran air (sungai)
telah menampakkan hasil yang positif. Sehingga, melihat upaya yang telah
dilakukan jajaran Pemkot Bekasi melalui walikota dan wakilnya, sudah saatnya
Kota Bekasi mendapat Adipura.
4. Segi
Organisasi Kemasyarakatan
Terlaksananya Program
Perencanaan Partisipatif Masyarakat Desa (P3MD), tidak terlepas dari berbagai
kebijakan yang melatarbelakanginya yaitu UU No. 22 tahun 1999, Propeda,
Renstrada dan Repetada Kabupaten Bekasi. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan
meliputi tahap persiapan yang terdiri dari evaluasi program, penentuan lokasi
sasaran dan menyusunan tujuan, sasaran dan kebijakan dalam pelaksanaan program.
Tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan dimana pada tahap ini lebih bersifat
informatif dalam bentuk sosialisasi yang diadakan pada tingkat kabupaten,
kecamatan dan desa. Kemudian ditindaklanjuti dengan mengadakan pelatihan dan
pengembangan untuk fasilitator desa yang didampingi oleh tenaga pendamping
lapangan (Lembaga BM2). Tahap ketiga meliputi pengembangan, pemberdayaan dan
evaluasi program dengam melibatkan masyarakat dan perangkat desa dalam
penyusunan perencanaan pembangunan desa dalam bentuk proposal usulan desa untuk
diajukan pada tingkat kecamatan. Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan program
diarahkan pada upaya untuk menumbuhkan prakarsa, swadaya, partisipasi, kerja
sama, memberdayakan kemampuan dan potensi masyarakat serta sumber-sumber yang
ada dalam masyarakat melalui diskusi kelompok, wawancara, observasi, brain
storming, role playing dan studi dokumentasi.
5. Segi
Ekonomi dan Mata Pencaharian
Penggusuran
lahan-lahan produktif telah menyebabkan banyak hilangnya potensi ekonomi
masyarakat tradisional yang selama ini hidup dari pertanian yang memiliki
kemampuan bukan dari bangku sekolah, melainkan dari ilmu turun temurun,
perubahan paradigma yang terjadi tentu saja membuat sock mereka yang tidak
memiliki kemampuan lain selain bertani, dampak yang terjadi adalah ada beberapa
generasi yang kemudian termandulkan karena orang tuanya tidak lagi memiliki
lahan penghasilan, sehingga tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya, akibat dari
itu maka yang terjadi kemudian adlah tercipatanya kesenjangan sosial, karena
untuk bisa bersaing dikalangan industri mereka harus memiliki persyaratan
formil, sehingga akibat dari terjadinya kesenjangan sosial ini maka kemudian
munculnya tingkat kriminalitas akibat kalah persaingan.amarfasyni.blogspot.com
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berangkat dari kenyataan
bahwa ada dua budaya dominan yang berkembang di wilayah Bekasi ini, yakni
Betawi dan Sunda.
Menggugah kalangan konstituen
untuk bagaimana merumuskan permasalahan cagar budaya Bekasi yang “hilang”
karena diklaim oleh daerah lain, seperti DKI Jakarta mengklaim tari Topeng
Bekasi menjadi Tari Topeng Betawi. Konstituen diharapkan memikirkan masalah ini
secara serius sehingga dikemudian hari tidak terjadi terjadi lagi. Misalnya,
apakah bisa menerbitkan peraturan daerah tentang perlindungan kebudayaan Bekasi
sehingga tidak diklaim oleh daerah lain. Kalau memungkinkan, apakah bisa dibuat
hak paten. Mematenkan budaya Bekasi.
Kebudayaan
Bekasi berkembang berdasar sikap masyakatnya yang terbuka, sehingga banyak
pengaruh daerah lain masuk. Namun pengaruh Cirebonan cukup dominan. Persolaan
lain yang perlu diantisipasi adalah adanya “ancaman” daerah lain ( Jakarta )
yang boleh jadi akan megklaim beberapa kesenian tradisi Bekasi sebagai bagian
dari tradisinya. Ini sudah terjadi pada kesenian Topeng yang aslinya dari
Tambun, tapi kini orang mengenalnya sebagai Topeng Betawi. Dia menyebut ada
jenis empat tradisi yang mesti segera “dilindungi” agar tak direbut. Antara
lain Wayang klitik, Wayang udung. Langkah awal yang harus dilakukan adalah
melakukan pementasan kesenian, antara lain Ujungan. Ini untuk melibatkan para
pelaku kesenian itu sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Koentjaraningrat. 1981. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta :
Gramedia.
Muhammad, Abdulkadir. 2008. Ilmu Sosial
Budaya Dasar. Bandung
: Citra Aditya Bakti.\
Google.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar