Rabu, 29 Oktober 2014

Tugas 3 Keluarga






Keluarga 

Perkenalkan Nama Saya Rakhel Bari Razak , Umur 17 tahun , Saya anak pertama dari 4 bersaudara dan saya mempunyai adik 2 dan yang satu lagi sudah meninggal , adik yang pertama bernama Divana Asha Aziziyah dan adik yang kedua saya bernama Raesya Asha Faizah, Dan adik saya yang sudah meninggal  bernama Rafa Azis Husein. Adik Saya yang pertama sudah SMP dan adik saya yang kedua baru kelas 4 SD.Jadi anak pertama tuh gak enak, masalahnya sering kena omelan , padahal adek gua yang salah tapi omelannya tuh ngarah ke saya mulu, trus kalau minta apa-apa gak pernah di turutin,  
Saya berasal dari keluarga yang sederhana, Bapak saya bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil), dan Ibu Saya Sebagai ibu rumah tangga. Oh, iya saya belom memperkenalkan nama orang tua saya, Bapak saya bernama Teguh suhanto, dan ibu saya bernama kartika. Bapak saya itu berasal dari kebumen, jawa tengah dan ibu saya itu berasal dari bojonegoro, jawa timur. Dan pada setiap liburan saya pulang kampong ke bojonegoro karena disana banyak anak muda sepantaran saya, kalau di kebumen jarang anak muda yang sepantaran seperti saya, tetapi sebenarnya lebih enak liburan ke kebumen di sana banyak pemandangan yang indah, di bandingkan di bojonegoro, kalau di bojoneogoro setiap hari libur kali Cuma main PS, dibandingkan di kebumen setiap hari pasti di ajak main ke sawah.
Sekarang kita bahas lingkungan yang dahulu hingga sekarang, dulu tuh saya tinggal di tangerang,banten hingga pada tahun 2004 saya pindah ke bekasi, gak ke rasa ya udah tinggal 10 tahun di bekasi. Bekasi dulu tuh kata orang-orang kotanya sangat indah anda saja , dulu pas baru pindah bekasi tuh perumahan di rumah saya masih banyak sawah, eh tapi sekarang jadi banyak pemukiman.

Senin, 27 Oktober 2014

Tugas 2 Pakain Adat Riau



Pakain Adat Riau

Pakain Adat Melayu Riau ini adalah pakaian tradisional Riau, walaupun ada beberapa macam-macam namun hanya satu pakaian adat untuk daerah Riau, yaitu Pakaian Adat Melayu Riau.

1. Foto Pakaian Adat, Tradisional Melayu Indragiri Riau

2. Foto Baju Adat Melayu Bengkalis Riau


3. Foto Baju Adat, Tradisional Melayu Siak Riau


Nilai Filosofi, Makna Pakaian Melayu Riau

Suatu karya seni disebut indah apabila pertama dibuat dengan baik dan kedua mempunyai makna. sebagai suatu hasil kebudayaan, Baju Melayu Kepulauan Riau idealnya hendaklah molek dilihat dari jauh dan molek pula dipandang dari dekat, indah menurut pemandangan mata dan hati, dibuat dengan baik dan mempunyai makna-makna yang terkandung dalam lambang-lambang.

Bagi orang Melayu, pakaian selain berfungsi sebagai penutup aurat dan pelindung tubuh dari panas dan dingin, juga menyerlahkan lambang-lambang. Lambang-lambang itu mewujudkan nilai-nilai terala (luhur) yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya.

Dengan bersebatinya lambang-lambang budaya dengan pakaian, kedudukan dan peran pakaian menjadi sangat mustahak dalam kehidupan orang Melayu. berbagai ketentuan adat mengatur tentang bentuk, corak (motif), warna, pemakaian, dan penggunaan pakaian. Ketentuan-ketentuan adat itu diberlakukan untuk mendidik dan meningkatkan akhlak orang yang memakainya.

Pakaian Melayu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut ada makna dan gunanya. ”Semuanya dikaitkan dengan norma sosial, agama, dan adat-istiadat sehingga pakaian berkembang dengan makna yang beraneka ragam. Makna pakaian melayu juga dikaitkan dengan fungsinya, yaitu pakaian sebagai penutup malu, pakaian sebagai penjemput budi, dan pakaian sebagai penolak bala.

Pada kaum laki-laki terdapat tiga jenis pakaian adat melayu. Pertama, baju melayu cekak musang yang terdiri dari celana, kain dan songkok. Baju ini biasa digunakan pada acara-acara keluarga seperti kenduri.

Kedua baju melayu gunting cina, baju ini biasa digunakan dalam sehari-hari dirumah untuk mengadakan acara yang tak resmi. Dan ketiga, baju melayu teluk belanga, baju ini terdiri dari celana, kain sampin dan penutup kepala atau songkok.

Sedang pakaian kaum perempuan ada dua yaitu pertama baju kurung, yang terdiri atas kain, baju dan selendang. Selendang dipakai dengan lepas di bahu dan biasanya tak melingkar di leher pemakai. Dan kedua, baju kebaya labuh, ynag terdiri atas kain, baju dan selendang.

Panjang lengan baju kira-kira dua jari dari pergelang an tangan sehingga gelang yang dikenakan kaum perempuan kelihatan. Lebar lengan baju kira-kira tiga jari dari permukaan lengan. Kedalaman baju bervariasi dari sampai batas betis atau sedikit ke atas.

Bagi perempuan dalam berpakaian dilengkapi dengan siput (sanggul) yang terdiri atas tiga macam yaitu, siput tegang, siput cekak, dan siput lintang. dan tudung atau penutup kepala.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Tugas 1 Makalah Ilmu Budaya Dasar Tentang Kebudayaan Bekasi


Universitas Gunadarma

Fakultas Ekonomi





Makalah Ilmu Budaya Dasar

Punahnya Kebudayaan Bekasi Yang Diambil Oleh Daerah Lain





Disusun Oleh :



 Nama    : Rakhel Bari Razak

      Kelas     : 1EA32

NPM    :18214860















Kata Pengantar





Dengan memanjatkan doa dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa

yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas menyusun laporan ini. Tujuan penyusunan laporan ini adalah sebagai laporan  tugas  dari  pelajaran Ilmu Budaya Dasar .



Makalah ini disusun berdasarkan pengetahuan umum, ilmu tata cara menyusun laporan karya ilmiah, dan sedikit tentang  ILMU BUDAYA DASAR. Mengingat terbatasnya waktu dan fasilitas yang tersedia, materi pokok yang diutamakan ialah

tentang  pengertian tentang kebudayaan bekasi.



Demikian makalah ini  saya susun dengan harapan akan memberikan

sumbangan ilmu pengetahuan walaupun sedikit untuk para pembaca.  Saya

menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang  membangun, agar laporan selanjutnya menjadi lebih baik. Dan dengan selesainya laporan ini semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.















 





DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR .............................................................................            

DAFTAR ISI .............................................................................................            

BAB I  PENDAHULUAN .......................................................................

  A.    Latar Belakang ................................................................................            

  B.     Tujuan .............................................................................................            

BAB  II  PEMBAHASAN ........................................................................

  A.    Pengenalan Daerah Bekasi ..............................................................

  B.     Kebudayaan Bekasi ........................................................................

  1.      Kesenian Daerah Bekasi ...........................................................

  2.      Segi Bahasa ...............................................................................

  3.      Segi Peralatan Hidup dan Teknologi.........................................

  4.      Segi Organisasi Kemasyarakatan ..............................................

   5.      Segi Mata Pencaharian...............................................................

BAB  III  PENUTUP

   A.    Kesimpulan .....................................................................................

DAFTAR PUSTAKA




















 

BAB I

PENDAHULUAN



    A.      Latar Belakang

Budaya Bekasi diibaratkan hidup segan mati tak mau. Yang harus dilakukan saat ini adalah menumbuhkan keyakinan untuk mampu bangkit. Harus punya keberanian. Dengan kata lain, tantangannya adalah harus memulai membangun jaringan komunikasi, baik dengan industri dan masyarakat. Untuk menjaga keutuhan budaya Bekasi, jika menggunakan melalui hak paten, dirasakan biayanya terlalu tinggi. Kalau bisa dengan peraturan daerah saja sudah cukup kuat untuk melindungi. Karena pemerintah daerah lain tidak bisa mengklaim lagi.

Kebudayaan Bekasi berkembang berdasar sikap masyakatnya yang terbuka, sehinga banyak pengaruh daerah lain masuk. Namun pengaruh Cirebonan cukup dominan. Persolaan lain yang perlu diantisipasi adalah adanya “ancaman” daerah lain ( Jakarta ) yang boleh jadi akan megklaim beberapa kesenian tradisi Bekasi sebagai bagian dari tradisinya. Ini sudah terjadi pada kesenian Topeng yang aslinya dari Tambun, tapi kini orang mengenalnya sebagai Topeng Betawi. Langkah selanjutnya, bisa lebih dipertajam. Misalnya menggunakan hak paten untuk melindungi cagar budaya Bekasi. Langkah ini diharapkan dapat mengikis kata-kata kuota dari Provinsi Jawa Barat bahwa Kota dan Kabupaten Bekasi hanya mendapat satu kuota cagar budaya. Pemberian kuota ini sangat mengecewakan karena, membuka pintu bagi daerah lain, seperti DKI Jakarta untuk mengklaim cagar budaya Bekasi. Dewan Kesenian bercita-cita bahwa kebudayaan harus menjadi oasenya, bukan jadi obyeknya.

   B.      Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah karena menjaga, memelihara dan melestarikan kebudayaan merupakan kewajiban setiap individu, maka dalam realisasinya, kamimencoba menyusun makalah yang berjudul Kebudayaan Bekasi yang didalamnya mengulas tentang berbagai kebudayaan berdasarkan unsur-unsur kebudayaan yang telah dipelajari.

Penyusunan makalah yang berjudul Kebudayaan Bekasi ini bertujuan agar pembaca mengetahui bahwa Kabupaten dan Kota Bekasi merupakan daerah yang kaya akan budaya serta menyadari bahwa menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah merupakan kewajiban dari setiap orang.













BAB II

PEMBAHASAN



     A.      Pengenalan Daerah Bekasi

Bekasi adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan daerah Jakarta sang primadona Indonesia, yang dalam istilah adalah daerah urban. Banyak sekali masyarakat Bekasi yang bekerja di Jakarta dan juga sebaliknya. Jakarta, sebagai ibukota dengan berbagai gaya hidup dan gelembung budaya yang selalu berkembang, tentu saja menyentuh sisi-sisi Bekasi sebagai daerah urban. Makanya, Bekasi merupakan salah satu kota yang paling cepat mengalami perubahan dalam hal sosial, seperti lifestyle dan ilmu pengetahuan.

Kota Bekasi memiliki luas wilayah sekitar 210,49 km2, dengan batas wilayah Kota Bekasi adalah:

• Sebelah Utara : Kabupaten Bekasi

• Sebelah Selatan : Kabupaten Bogor dan Kota Depok

• Sebelah Barat : Provinsi DKI Jakarta

• Sebelah Timur : Kabupaten Bekasi

Letak geografis : 106o48’28’’-107o27’29’’ Bujur Timur dan 6o10’6’’-6o30’6’’ Lintang Selatan.

Salah satu prestasi yang telah dicapai Kota Bekasi di tahun 2009 adalah Piagam Adipura. Prestasi tersebut, merupakan catatan terbaik duet kepemimpinan Walikota Bekasi H Mochtar Mohamad dan Wakil Walikota Bekasi H Rahmat Effendi, karena berhasil membalikkan predikat sebagai Kota Metropolitan Terkotor yang disandang sejak tahun-tahun sebelumnya. Keberhasilan meraih Piagam Adipura merupakan titik awal dalam persaingan meraih Piala Adipura pada tahun 2010 mendatang. Keberhasilan yang sekaligus menjauhkan dari rasa keberpuasan diri, membuat duet pemimpin Kota Bekasi ini terus memacu kinerjanya, salah satunya dalam menggapai Piala Adipura yang diidam-idamkan, tidak hanya oleh keduanya, tapi sekaligus oleh jajaran Pemkot Bekasi dan masyarakat Kota Bekasi.

Kota Bekasi yang disebut sebagai daerah penyeimbang ibukota Jakarta, saat ini telah banyak melakukan pembenahan. Pertumbuhan masyarakat yang berkembang pesat menjadi ukuran yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam tingkat kota/kabupaten, dimana perkembangan Kota Bekasi saat ini telah mengikuti irama perkembangan DKI Jakarta.

    B.       Kebudayaan Bekasi

Kebudayaan Bekasi akan punah kalau tidak dijaga. Minimal dengan mempublikasikannya dengan tulisan. Salah satu contoh ialah, pemerintah daerah Solo dan Banjarmasin yang sudah melakukannya. Tetapi, kita belum menemukan sebuah buku di Bekasi yang menggarap profil kebudayaan secara utuh. Mengharapkan ada penulis yang serius menggarap profil kebudayaan Bekasi. Nanti kemungkinan bisa dicetak oleh pemerintah daerah dan dapat dibagikan ke masyarakat secara gratis. DPRD respek dengan permasalahan kebudayaan Bekasi. Meminta dari pertemuan-pertemuan Komunitas Pangkalan Bambu, dibuatkan notulensi sehingga ada jejaknya. Selama ada keseriusan, ada pengkajian, dan mengajak anggota DPRD lainnya untuk juga membicarakan masalah kebudayaan Bekasi yang terancam punah. Dan jugaadanya kesediaaan diri untuk membantu dengan memberikan komputer laptop untuk operasional. Minimal kegunaanya untuk membuat notulensi tiap kali ada pertemuan Komunitas Pangkalan Bambu.



1.        Kesenian Daerah Bekasi

Sulit menetapkan kesenian Kola Bekasi. Pasalnya, warga Kota Bekasi saat percampuran antara budaya Betawi, Jakarta dan budaya Sunda, Jawa Barat. Pasalnya, kebanyakan warga Kota Bekasi berasal dari Jakarta. Sedangkan, daerah itu sendiri masuk Jawa Barat yang masuk teritorial tanah Sunda.

Tapi, nyatanya kesenian Kota Bekasi lebih dekat dengan kesenian khas Jakarta. Pasalnya, Budaya Betawi warga Kota Bekasi masih sangat dekat dengan budaya Betawi.

 Sejak Kerajaan Pasundan, 2 Jawara Adu Kemahiran Silat, Kota Bekasi rajinmenginventarisir kesenian asli daerahnya. Setelah kesenian Topeng, kini satu lagi kesenian khas Kota Patriot itu akan dipopulerkan. Yakni kesenian Ujungan.

Kesenian Ujungan yaitu kesenian dengan memukul betis dan tulang kering, dengan memanfaatkan lull aren, seorang pemain Ujungan langsung meloncat-loncat dengan bergaya lucu. Ditambah lagi dengan laga kocak pemain Ujangan ini membuat penonton terpingka-pingkal. Agar tidak terkena penonton, maka disiapkan sendiri arenanya. Sejak tumbuh di jamannya, permainan Ujungan ini sangat digemari warga Kota Bekasi. Karena, mereka sangat terhibur apabila ada pagelaran kesenian ini digelar

Meski ditenggelamkan jaman, namun permainan tradisional Kota Bekasi ini mendapatkan perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi untuk dijadikan kesenian khas Kota Bekasi. Bahkan, kesenian ini juga pernah dipertontonkan saat digelarnya pertunjukan kesenian antar daerah di Jawa Barat beberapa waktu lalu, (bersambung) sama dengan DKI Jakarta.

Ratusan tahun lalu, menurut para tokoh Bekasi yang kini masih hidup, permainan Ujungan dijadikan sebagai buhan canda. Salah satu tokoh seni Kota Bekasi, H.M Husin Ka-mali mengatakan Ujungan telah bermetamorfosa. Awalnya, Ujungan adalah permainan olahraga ketangkasan. Namun, dalam perjalanannya temyata difungsikan sebagai alat penghibur bagi masyarakat.

Kesenian selanjutnya yaitu berupa tari topeng Bekasi yang mana DKI Jakartatelah mengklaim tari Topeng Bekasi menjadi Tari Topeng Betawi.



2.        Segi Bahasa

Bahasa Bekasi benar-benar khas dan tidak ada yang menyamainya. Bahkan bahasa yang lazim digunakan kebanyakan orang di Bekasi sangatlah unik. Biladiperhatikan, orang asli atau yang sudah lama tinggal di Bekasi akan berbicara dengan bahasa Sunda, atau terkadang hanya logatnya. Dengan membawa keaslian Sunda tersebut, Bekasi yang notabene adalah kota urban, terkena imbas budaya betawi yang begitu mudah masuk dan mempengaruhi nilai-nilai sosial, termasuk bahasa.

Seringkali orang Bekasi dapat dikenali ke-sunda-annya dari logat dan nada yang digunakan. Namun diksi dan kata-kata yang dipilih lebih mengarah ke bahasa Betawi. Sehingga dapat disimpulkan bahasa Bekasi adalah mixing antara Betawi dan Sunda yang membuat bahasanya lebih menarik dan asik untuk didengarkan.

Semua itu dapat dianggap sebagai sebuah nilai sosial yang bernilai tinggi, karena Bekasi telah memadukan bahasa Sunda yang klasik dan bahasa Betawi yang ekspresif menjadi bahasa Bekasi yang asik dan menyenangkan.

3.        Segi Peralatan Hidup dan Teknologi

Kemajuan teknologi pun kini tersosialisasi dengan baik dan bahkan telah berjalan. Diantara kemajuan teknologi yang telah berjalan di Kota Bekasi adalah mengolah sampah menjadi sumber energi listrik dan mengubah sampah menjadi Bio Oilyang tentunya melibatkan tenaga-tenaga yang handal dan profesional baik lokal maupun hasil kerja sama luar negeri.

Pertumbuhan masyarakat dan perkembangannya saat ini yang diiringi dengan tersedianya beragam fasilitas, sarana dan prasarana pendukung membuat perkembangan infrastruktur di Kota Bekasi patut diperhitungkan. Percepatan tersebut dilakukan melalui perbaikan-perbaikan sarana dan prasarana jalan mencakup seluruh jaringan jalan yang ada, meski perlahan namun arahnya jelas. Selain itu, secara umum, kebersihan baik lingkungan maupun aliran air (sungai) telah menampakkan hasil yang positif. Sehingga, melihat upaya yang telah dilakukan jajaran Pemkot Bekasi melalui walikota dan wakilnya, sudah saatnya Kota Bekasi mendapat Adipura.





4.        Segi Organisasi Kemasyarakatan

Terlaksananya Program Perencanaan Partisipatif Masyarakat Desa (P3MD), tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang melatarbelakanginya yaitu UU No. 22 tahun 1999, Propeda, Renstrada dan Repetada Kabupaten Bekasi. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan meliputi tahap persiapan yang terdiri dari evaluasi program, penentuan lokasi sasaran dan menyusunan tujuan, sasaran dan kebijakan dalam pelaksanaan program. Tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan dimana pada tahap ini lebih bersifat informatif dalam bentuk sosialisasi yang diadakan pada tingkat kabupaten, kecamatan dan desa. Kemudian ditindaklanjuti dengan mengadakan pelatihan dan pengembangan untuk fasilitator desa yang didampingi oleh tenaga pendamping lapangan (Lembaga BM2). Tahap ketiga meliputi pengembangan, pemberdayaan dan evaluasi program dengam melibatkan masyarakat dan perangkat desa dalam penyusunan perencanaan pembangunan desa dalam bentuk proposal usulan desa untuk diajukan pada tingkat kecamatan. Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan program diarahkan pada upaya untuk menumbuhkan prakarsa, swadaya, partisipasi, kerja sama, memberdayakan kemampuan dan potensi masyarakat serta sumber-sumber yang ada dalam masyarakat melalui diskusi kelompok, wawancara, observasi, brain storming, role playing dan studi dokumentasi.

5.        Segi Ekonomi dan Mata Pencaharian

Penggusuran lahan-lahan produktif telah menyebabkan banyak hilangnya potensi ekonomi masyarakat tradisional yang selama ini hidup dari pertanian yang memiliki kemampuan bukan dari bangku sekolah, melainkan dari ilmu turun temurun, perubahan paradigma yang terjadi tentu saja membuat sock mereka yang tidak memiliki kemampuan lain selain bertani, dampak yang terjadi adalah ada beberapa generasi yang kemudian termandulkan karena orang tuanya tidak lagi memiliki lahan penghasilan, sehingga tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya, akibat dari itu maka yang terjadi kemudian adlah tercipatanya kesenjangan sosial, karena untuk bisa bersaing dikalangan industri mereka harus memiliki persyaratan formil, sehingga akibat dari terjadinya kesenjangan sosial ini maka kemudian munculnya tingkat kriminalitas akibat kalah persaingan.amarfasyni.blogspot.com
















 

BAB III

PENUTUP



    A.      Kesimpulan

Berangkat dari kenyataan bahwa ada dua budaya dominan yang berkembang di wilayah Bekasi ini, yakni Betawi dan Sunda.

Menggugah kalangan konstituen untuk bagaimana merumuskan permasalahan cagar budaya Bekasi yang “hilang” karena diklaim oleh daerah lain, seperti DKI Jakarta mengklaim tari Topeng Bekasi menjadi Tari Topeng Betawi. Konstituen diharapkan memikirkan masalah ini secara serius sehingga dikemudian hari tidak terjadi terjadi lagi. Misalnya, apakah bisa menerbitkan peraturan daerah tentang perlindungan kebudayaan Bekasi sehingga tidak diklaim oleh daerah lain. Kalau memungkinkan, apakah bisa dibuat hak paten. Mematenkan budaya Bekasi.

Kebudayaan Bekasi berkembang berdasar sikap masyakatnya yang terbuka, sehingga banyak pengaruh daerah lain masuk. Namun pengaruh Cirebonan cukup dominan. Persolaan lain yang perlu diantisipasi adalah adanya “ancaman” daerah lain ( Jakarta ) yang boleh jadi akan megklaim beberapa kesenian tradisi Bekasi sebagai bagian dari tradisinya. Ini sudah terjadi pada kesenian Topeng yang aslinya dari Tambun, tapi kini orang mengenalnya sebagai Topeng Betawi. Dia menyebut ada jenis empat tradisi yang mesti segera “dilindungi” agar tak direbut. Antara lain Wayang klitik, Wayang udung. Langkah awal yang harus dilakukan adalah melakukan pementasan kesenian, antara lain Ujungan. Ini untuk melibatkan para pelaku kesenian itu sendiri.



DAFTAR PUSTAKA



Koentjaraningrat. 1981. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : Gramedia.

Muhammad, Abdulkadir. 2008. Ilmu Sosial Budaya Dasar.  Bandung : Citra Aditya Bakti.\
Google.com